AIIF 2026 Dorong Penguatan Ekosistem AI Indonesia, DAC Indonesia Hadir sebagai Partner Teknologi Strategis

image

AIIF 2026 Dorong Penguatan Ekosistem AI Indonesia, DAC Indonesia Hadir sebagai Partner Teknologi Strategis

Bandung — AI Indonesia Initiative Forum (AIIF) 2026 yang berlangsung di Aula Timur, Institut Teknologi Bandung (ITB), pada 26–28 Agustus 2026 menjadi salah satu forum strategis yang mempertemukan akademisi, praktisi, peneliti, serta pelaku industri untuk membahas perkembangan dan penerapan kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia. Diselenggarakan bersamaan dengan 13th International Conference on ICT for Smart Society (ICISS 2026), kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi untuk memperkuat ekosistem AI nasional.

Mengusung tema
“AI untuk Indonesia Cerdas: Membangun Ekosistem Kecerdasan Artifisial untuk Transformasi Sektor Strategis dan Wilayah”, AIIF 2026 membahas berbagai aspek penting dalam pengembangan AI, mulai dari transformasi digital, ekosistem data, hingga pembangunan sistem AI yang dapat memberikan dampak nyata bagi berbagai sektor strategis.

Sejumlah tokoh nasional turut menyampaikan pandangannya mengenai perkembangan AI dan dampaknya terhadap Indonesia. Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, menyoroti pengaruh AI terhadap daya saing ekonomi dan investasi. Menurutnya, kesiapan Indonesia dalam menghadapi perkembangan AI perlu dibangun secara menyeluruh, mencakup sektor semikonduktor, energi, data center, komputasi, cloud, model dan data, hingga adopsi AI secara luas.


Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan AI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membangun model atau aplikasi, tetapi juga membutuhkan kesiapan infrastruktur dan ekosistem teknologi secara menyeluruh. Ketersediaan perangkat komputasi, pusat data, jaringan, serta kemampuan industri dalam negeri menjadi bagian penting untuk memastikan AI dapat diadopsi secara luas dan memberikan dampak terhadap berbagai sektor.

Di sisi pendidikan, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menghadapi perkembangan AI. Kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat penciptaan dan penyebarluasan pengetahuan, tetapi juga memiliki peran dalam mengkurasi pengetahuan di tengah derasnya perkembangan teknologi. Karena itu, perguruan tinggi perlu turut menyiapkan sumber daya manusia yang mampu memahami dan beradaptasi dengan perkembangan AI.

Dalam ajang tersebut, DAC Indonesia hadir sebagai
sponsor sekaligus mitra teknologi yang mendukung implementasi solusi berbasis AI di berbagai sektor. Kehadiran DAC Indonesia mencerminkan komitmennya dalam mendukung perkembangan teknologi nasional melalui penyediaan perangkat dan infrastruktur yang dapat menjadi fondasi bagi penerapan kecerdasan artifisial.



Kehadiran DAC Indonesia dalam forum tersebut juga mendapat perhatian dari
Prof. Suhono Harso Supangkat, akademisi dan pakar teknologi informasi Indonesia. Menurutnya, DAC menjadi salah satu contoh perusahaan teknologi dalam negeri yang tidak hanya menghadirkan perangkat dengan identitas lokal, tetapi juga membangun kemampuan industri melalui berbagai proses pengembangan dan dukungan teknologi di Indonesia.


“Nama DAC adalah Dari Anak Cirebon. Kantor, pabrik, gudang, dan
purna jualnya berpusat di Kota Cirebon, Jawa Barat. Yang ditawarkan bukan merek impor yang hanya ditempeli stiker lokal, melainkan perangkat yang dirancang, dirakit, diuji, dan didukung dari Cirebon” ujar Prof. Suhono.

Menurut Prof. Suhono, penguatan industri teknologi dalam negeri menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem AI Indonesia. Meski komponen utama seperti prosesor, GPU, NPU, memori, dan chipset masih berasal dari rantai pasok global, kemampuan industri lokal dalam melakukan desain, kustomisasi, integrasi perangkat keras dan perangkat lunak, pengujian, kendali mutu, hingga layanan purna jual merupakan aspek penting yang perlu terus dikembangkan.



Pandangan tersebut sejalan dengan arah pengembangan DAC Indonesia yang tidak hanya berfokus pada penyediaan perangkat, tetapi juga membangun fondasi komputasi untuk berbagai tingkat kebutuhan AI. Daan Calera, owner DAC Indonesia, mengatakan perangkat yang dikembangkan DAC dirancang untuk menjawab kebutuhan AI mulai dari skala personal hingga organisasi.


“Perangkat ini dirancang untuk menjawab kebutuhan AI mulai dari skala personal hingga organisasi,” ujar Daan.

Pendekatan tersebut dikembangkan melalui tahapan Personal AI, Local AI, Private AI, hingga Cloud AI. Pada tingkat personal, AI dapat dijalankan langsung melalui perangkat, sementara untuk kebutuhan organisasi, perangkat komputasi dan penyimpanan dapat mendukung pengolahan data AI secara lokal di lingkungan internal. Pendekatan ini memungkinkan pemanfaatan AI disesuaikan dengan kebutuhan dan skala pengguna, mulai dari pendidikan, pemerintahan, hingga bisnis dan organisasi.

Daan menambahkan, kehadiran DAC di AIIF 2026 menjadi kesempatan bagi DAC Indonesia untuk memahami kebutuhan pengguna, mengikuti perkembangan teknologi, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pihak dalam pengembangan ekosistem AI di Indonesia.



Sebagai perusahaan teknologi yang berfokus pada penyediaan solusi komputasi, DAC Indonesia menghadirkan berbagai portofolio perangkat pendukung AI, mulai dari PC, workstation, hingga server. Salah satu solusi yang ditampilkan adalah AI Book, laptop tipis dan ringan berbasis Intel Core Ultra serta AMD Ryzen AI yang mendukung pemrosesan kecerdasan artifisial secara langsung melalui perangkat (on-device AI).

AI Book juga dilengkapi dengan AI Studio, sebuah platform aplikasi AI lokal yang memungkinkan pengguna menjalankan berbagai fungsi AI tanpa sepenuhnya bergantung pada layanan cloud maupun koneksi internet. Kemampuan ini memberikan fleksibilitas lebih besar bagi pengguna, terutama dalam pengelolaan data yang membutuhkan kontrol dan perhatian terhadap aspek privasi.

Untuk kebutuhan operasional di lingkungan kerja dengan kondisi yang lebih menantang, DAC Indonesia juga menghadirkan
AI Book Rugged. Perangkat ini dirancang dengan konstruksi yang lebih kuat serta perlindungan terhadap debu, air, benturan, dan risiko jatuh, sehingga dapat digunakan pada berbagai kebutuhan lapangan.



Selain perangkat personal, DAC juga menghadirkan workstation dan server yang mendukung kebutuhan komputasi AI dalam skala organisasi. Dengan portofolio tersebut, DAC berupaya menyediakan fondasi teknologi yang dapat mengakomodasi kebutuhan AI mulai dari pengguna individu hingga implementasi dalam lingkungan industri dan institusi.

Melalui partisipasinya dalam AIIF 2026, DAC Indonesia menegaskan perannya dalam mendukung percepatan adopsi teknologi AI di Indonesia. Tidak hanya melalui penyediaan perangkat komputasi,
tetapi juga melalui penguatan kemampuan industri dalam negeri untuk mengembangkan, mengintegrasikan, dan memberikan layanan terhadap perangkat teknologi yang dibutuhkan dalam ekosistem AI.

Bagi pengembangan AI Indonesia, pembangunan ekosistem kecerdasan artifisial tidak berhenti pada pengembangan perangkat lunak dan algoritma. Ketersediaan infrastruktur komputasi, kemampuan industri dalam negeri, serta dukungan layanan lokal menjadi bagian penting dalam mewujudkan transformasi digital yang berkelanjutan.

Bagikan: